Biduk dan Ombak : Sebuah pengantar untuk mawas diri

1314160075ombakManusia hidup didunia fana ini, bagaikan sebuah Biduk (perahu kecil) yang bergulat mengarungi samudra luas untuk menuju dan sampai di Pantai Idaman. Tidak sedikit hambatan dan rintangan yang menghadang. Kadang berupa ombak yang besar, binatang laut yang ganas, kadang diterpa badai dan topan, kadang hujan lebat bercampur petir, bahkan Hujan dan petir bersahut-sahutan disertai ombak dan badai yang ganas menerpa sang biduk. Bidukpun menjadi oleng, berjalan sempoyongan, bahkan tak jarang pula membuat sang biduk, patah kemudi, robek layarnya, inipun masih beruntung bagi sang biduk karena masih dapat melanjutkan perjalanannya, tak jarang bahkan sang biduk menjadi pecah dan tenggelam ditelan ganasnya ombak badai yang menghantam.

Namun kadang kala juga datang angin buritan yang dapat membawa sang biduk berjalan cepat, sehingga lebih awal untuk sampai di pantai idaman, begitulah perjalanan sang biduk ditengah-tengah samudra luas yang penuh dengan rintangan dan tantangan, dan kadang pula penuh dengan keberuntungan. Apabila sang juragan biduk yang memegang kemudi tahu memperhitungkan, keadaan cuaca, tahu kapan boleh turun melaut dan kapan tidak boleh turun kelaut, dan sang juragan tahu arah jalan yang akan dituju, maka ia akan mudah untuk sampai di pantai idaman yang dituju tanpa banyak menemui hambatan dan rintangan dan resiko didalam perjalanan.

Begitu pula dengan hidup manusia didunia fana ini, sering mengalami musibah dalam hidupnya, karena lalai, teledor, dan kurang perhitungan, sehingga terjadi badai musibah menerpa dirinya, dan kemudian manusia sering berkata: Allah memberi ujian hidup, kepada Hamba-Nya, atau mengatakan Allah memberi Cobaan hidup kepadanya, yang datang dari Allah.Swt. Begitulah yang sering kita dengar, kita ucapkan selama ini.

Padahal sudah sangat jelas sekali Ayatnya:
LAA-ILLAHA ILLA-ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINADZHAALIMIIN
“Dialah Allah-ku yang Maha Suci dan Maha Sempurna, sesungguhnya aku adalah golongan orang orang yang dzhalim”

Nyatanya, diri kita sendiri yang mendzholimi diri ini sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *