Tag Archives: Makrifah

Bayan al-Alif (penjelasan tentang alif)

Alif-Sukoon-Large(1) Ketahuilah penjelasan alif, arti dari alif, asal alif adalah titik. Titik adalah atomik, sedangkan atom adalah ruh lembut. Arti dari ruh lembut adalah sirr khofiy, berdasarkan firman Allah: manusia adalah sirr-Ku dan Aku adalah sirr dia. Arti dari sirr adalah cahaya dzat dan sifat. Karena sesungguhnya Allah adalah penjelasan dari dzat dan sifat itu. Dan arti dari sifat yaitu pengetahuan Tuhanku.

Ketahuilah, penjelasan tentang pengetahuan (Tuhan) adalah ruh.
(2) Dan arti dari ruh yaitu dekat kepada Allah ta’ala. Firman Allah dalam hadits qudsi: “Barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta…..”.

Arti dari ruh yaitu rahasia (sirr) iman. Sedangkan iman adalah tempat rahasia (sirr). Arti dari rahasia (sirr) adalah cahaya dzat. Arti dari cahaya yaitu terang. Dan arti dari terang adalah ilmu.

Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dalam rumah yang kekal, yaitu hati. Akan tetapi bukan hati yang berbentuk segumpal daging. Yaitu ha’, yaitu titik. Sejak masa lahir yang membuka empat hal. pertama, Fath, kedua kasrah, ketiga rafa’, keempat naqt (sukun).

(3) sedangkan yang dimaksud dengan fath yaitu nama ruh. Dan yang dimaksud dari kasrah adalah nama bagi pena (qalam). Sedangkan yang dimaksud dengan rafa’ adalah nama bagi akal. Sedangkan yang dimaksud dengan naqt (sukun) yaitu nama bagi cahaya.

Maksud dari huruf lam yang pertama adalah nama malaikat Jibril yang diutus kepada makhluk. Sedangkan maksud dari huruf lam yang terakhir adalah nama bagi cahaya Muhammad yang diutus kepada makhluk. Yang dimaksud dari huruf ha’ adalah yang maha disembah, yaitu nama dari dzat. Dzat yang dimaksud yaitu dzat Allah ta’ala.

Ketahuilah sesungguhnya yang pertama kali adalah titik (naqt). Kemudian dari titik (naqt) terbukalah fatah, kasrah, dan rafa’, serta yang lainnya, termasuk juga alif. Karena alif termasuk tuannya para huruf.

(4) Hal ini berdasarkan firman Allah dalam hadits qudsi: “Allah menurunkan al-Qur’an dalam bentuk satu huruf yaitu alif”. Alif merupakan dzohirnya Allah ta’ala dan keindahan-Nya yang esa. Allah berfirman:

قل هو الله أحد. الله الصمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا أحد

keindahan al-Qur’an berada dalam surat al-Fatihah. Dan keindahan surat al-Fatihah berada dalam basmalah. Dan keindahan basmalah berada dalam huruf-huruf. Dan keindahan huruf-huruf ada dalam alif. Sedangkan keindahan alif yaitu titik (naqt). Semuanya berasal dari titik (naqt).

Tauhid adalah tidak melihat selain Allah. Allah berfirman dalam hadits qudsi: “yang pertama kali diciptakan oleh Allah ta’ala adalah akal, yang pertama kali diciptakan oleh Allah ta’ala adalah pena (qalam), yang pertama kali diciptakan oleh Allah ta’ala adalah wahyu,

(5) yang pertama kali diciptakan oleh Allah ta’ala adalah nur Muhammad Saw. Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah bentuk dari seluruh orang beriman. Sedangkan cahayanya adalah bentuk dari ruh Muhammad. Muhammad bersabda: “Hai Adam, bapak para anak, aku adalah bapak para arwah, Muhammad adalah rahasia (sirr) Allah. Berkata; “Lukman al-hakim adalah bayan sebagaimana bayan Muhammad, sedangkan bayan Muhammad adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah ta’ala.

Bayan dari nafsu adalah perasaan dari muhammad. Bayan dari nafsu adalah pengganti Muhammad. Bayan Muhammad yaitu kebenaran, yaitu Allah. Muhammad adalah nafsu itu sendiri, yaitu kesempurnaan niat. Meskipun semuanya tidak diketahui. Akan tetapi merupakan penipuan dalam amal perbuatan, seperti kambing.

(6) hal demikian bukanlah Islam. Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kamu, yaitu bentuk salah satu di antara kamu, yaitu sesungguhnya jisim atau badan salah satu di antara kalian itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk setetes air mani. Abdullah ibn Mas’ud r.a berkata: “sesungguhnya ketika setetes air mani diletakkan dalam kandungan, maka Allah sesungguhnya menginginkan menciptakannya menjadi seorang manusia yang baik yang berada dalam perut perempuan. Dengan diberi kulit dan rambut, kemudian menetap dalam kandungan selama empat puluh malam. Kemudian air mani itu berubah menjadi segumpal darah dalam kandungan. Hal ini telah disebutkan dalam al-Quran: ثم يكن علقة. Yang dimaksud dengan ‘alaqah yaitu darah yang menggumpal keras. Hal itu terjadi setelah penciptaan air mani selama empat puluh hari.

(7) hal itu menunjukkan bahwa ada yang tidak disebutkan, yaitu penciptaan dalam masa empat puluh hari. Kemudian segumpal darah itu berubah menjadi segumpal daging, yaitu sepotong daging selama empat puluh hari, dan terjadi setelah segumpal darah dalam masa empat puluh hari. Pada empat puluh hari terakhir itu, maka akan nampaklah tulangnya, bentuk raganya dan anggota tubuhnya, serta jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat kepadanya dengan menyampaikan empat kalimat. Kalimat iu akan tertulis di lauh al-mahfudz.

(8) Mujahid berkata: “empat kalimat tersebut ditulis di atas daun, kemudian daun itu digantungkan di leher orang tersebut dan tidak ada seorangpun yang melihat tulisan tersebut. Kalimat pertama yaitu Amal perbuatannya setiap hari ditulis di daun itu, apakah itu amal perbuatan baik ataupun buruk. Di daun itu tertulis setiap hari dia perbuatan demikian dan seperti demikian. Kalimat yang kedua yaitu tentang ajalnya, yaitu berapa lama dia hidup di dunia. Kalimat yang ketiga adalah tentang rizkinya, yaitu tertulis apakah dia mendapat rizki yang banyak ataukah sedikit. Kalimat yang keempat adalah keberuntungannya. Apakah dia orang yang termasuk celaka ataukah dia termasuk orang yang beruntung. Setelah ditulis keempat kalimat tersebut maka kemudian ditiupkanlah ruh ke dalam dirinya.

Selesailah kitab Bayan al-Alif (penjelasan tentang alif).

Allah yang maha benar.

Sangkan Paran Dumadi: ORANG JAWA DAN RAHASIA KEMATIAN

SANGKAN PARANING DUMADI

ORANG JAWA DAN RAHASIA KEMATIAN
Karya Bendung Layungkuning

cvr-sangkan-paran-bendung-layungkuning-cmprs

Disarikan dan dibahas Oleh Bocah Angon

Upaya manusia untuk memahami keberadaanNYA diantara semua makhluk yang tergelar di jagad raya telah membawa manusia dalam perjalanan pengembaraan yang tak pernah berhenti. Pertanyaan tentang dari mana dan mau kemana (Sangkan Paraning Dumadi) pada setiap perjalanan dari individu makhluk terus menggelinding dari zaman ke zaman.
IA adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran. IA hanya satu, tanpa kembaran, Gusti Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari. Orang jawa menyebutnya Gusti Pangeran. Kata pangeran berasal dari kata pangengeran, yang artinya tempat bernaung dan berlindung.
Terhadap Allah manusia hanya mampu memberikan sebutan sehubungan dengan perannya, Gusti kang murbeng dumadi (Penentu nasib semua makhluk), Ya Rakhman Ya Rakhim (Pengasih Penyayang, red : Bocah Angon) dan tidak dapat menggambarkan wujudnya karena untuk mendefinisikanpun tidak bisa, sebab kata-kata hanyalah produk fikiran. Sehingga orang jawa menyebutnya tan kena kinaya ngapa (tak dapat disepertikan)
Dasar kepercayaan masyarakat jawa (javanisme) adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini pada hakikatnya merupakan kesatuan hidup. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius.
Perkembangan kecerdasan dan kesadaran manusia telah membentuk budaya pencarian yang tiada hentinya. Syarat utama bagi para pejalan spiritual adalah kebersediaannya dan kemampuannya menghilangkan atau menyimpan untuk sementara pemahaman dogmatis (agama , red : bocah angon) yang telah dimilikinya, dan mempersiapkan diri dengan keterbukaan hati dan pikiran untuk merambah ke jagad ilmu pengetahuan (kawruh) non-ragawi, yaitu ilmu yang gawat dan wingit, karena sifatnya sangat pribadi dan tidak bisa diseragamkan dengan idiom-idiom yang ada.
Perjalanan spiritual adalah proses panning upaya manusia untuk mencapai tataran-kahanan (strata, Maqom) dengan cara membebaskan diri dari segala bentuk keterikatan dan kemelekatan serta kepemilikan, baik itu jasmani ataupun rohani.

****(Salah satu metode yang dilakukan adalah bersemedi, yaitu menghentikan segala fungsi tubuh, keinginan serta nafsu jasmaninya. Dengan latihan ini diharapkan agar diri dapat membebaskan dari keadaan sekitar. Karena dengan metode ini akan tercipta keheningan pikiran, sehingga membuat diri mengerti dan menghayati hakikat hidup : Bocah Angon)

****Dalam islampun hal ini tersirat dalam peristiwa yang dikenal dengan Lailatul Qadr. Lailatul Qadr merupakan sebuah peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadan (malam hari).

****“Kenapa bulan ramadan?”,  “bukankah artinya ramadan adalah kemenangan”.

****“Menang dari apa?”, ”menang dari segala hawa nafsu yang ada di diri”.

****“Kenapa malam hari?”, “malam hari merupakan simbol dari keheningan, simbolisasi dari Mengheningkan Cipta (menghentikan segala fungsi tubuh), dan merupakan waktu yang tepat untuk merenungi diri (menghayati hakikat hidup)”.

****Sehingga apabila manusia disetiap harinya mampu mengendalikan dan mengalahkan segala hawa nafsunya maka orang tersebut ditiap harinya mengalami peristiwa Lailatul Qadr (penulisan Al Qur’an Teles / basah, red: hakikat hidup dalam hati).
Al Quran dimulai diturunkan pada malam Lailatul Qadr, yang nilainya lebih dari seribu bulan; para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam Lailatul Qadr untuk mengatur segala urusan.
Seperti yang dijelaskan dalam fiman Allah “ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593]. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Allahnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al Qadr 97 : 1-5)
[1593]. Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.

**** = Bocah Angon
Dalam hadistnya Nabi Muhammad bersabda bahwa Malam Lailatul Qadar, bisa ditemui dalam mimpi “ Aku lihat mimpi-mimpi kalian tentang lailatul qadar semuanya sama menunjukkan pada tujuh malam terakhir. Karenanya siapa saja yang mau mencarinya, maka hendaklah dia mencarinya pada tujuh malam terakhir”. (HR. Al-Bukhari no. 1876 dan Muslim no. 1985)

****(Alam pikiran orang jawa telah merumuskan bahwa kehidupan manusia berada dalam dua alam (kosmos), makrokosmos adalah alam semesta dengan pusat Allah dan mikrokosmos adalah diri manusia secara pribadi.: Bocah Angon)

Dalam ajaran kejawen dikatakan bahwa Allah menyatu dengan ciptaannya dengan digambarkan sebagai curiga manjing warangka, warangka manjing curiga; seperti keris masuk ke dalam sarungnya, seperti sarung memasuki kerisnya.
Meskipun ciptaannya selalu berubah atau “menjadi” (dumadi), Allah tidak terpengaruh terhadap perubahan ciptaannya. Dalam kalimat puitis orang jawa mengatakan “ Pangeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni, nganakake bantu manggon ong banyu ora teles dening banyu.” Artinya Allah mengadakan api, berada dalam api, namun tidak terbakar, menciptakan air bertempat di air tetapi tidak basah.
Menyatunya Allah dengan ciptaanNYA secara simbolis juga dikatakan kaya kodhok ngemuli leng, kaya kodhok kinemulan ing leng (seperti katak menyelimuti liangnya dan seperti katak terselimuti liangnya). Dengan pengertian demikian maka jarak antara Allah dan ciptaanNYA tidak terukur lagi (Baca hakekat makna 1000 tahun). Dalam filsafat jawa ditegaskan “adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan”, artinya jauh tanpa batas, dekat namun tak bersenAllah.

 

BAB I

MAKNA KEMATIAN BAGI MASYARAKAT JAWA

Manusia tidaklah selayaknya bersedih hati atas meninggalnya makhluk lain, betapapun besar jasanya dan betapapun besar cinta kasihnya.  Namun, ini juga bukanlah berarti seseorang harus bersukaria atas kematian sanak keluarga. Dengan perkataan lain, berduka-cita bukanlah suatu kebajikan, bukanlah suatu perwujudan dari rasa bakti, tulus dan setia.

Untuk menyatakan serta membuktikan betapa besarnya rasa bakti dan cinta kasih terhadap almarhum, seseorang tidaklah harus berduka-cita, menangis atau bahkan menyewa orang-orang miskin untuk berpura-pura menangis. Karena semua menyadari bahwa orang yang telah lama meninggal dunia tidaklah mungkin dapat dihidupkan kembali, hal ini bukanlah pertolongan baginya di alam sana. Bukan tangisan dari sanak keluarga yang dapat mengantarkan seseoran ke surga.

****(Yang dapat memberikan pertolongan adalah Do’a dari anak (almarhum), Amal perbuatan (kebaikan almarhum) selama di dunia dan ilmu (almarhum) yang bermanfaat untuk sesama makhluk hidup. :Bocah Angon)

Seseorang yang dirundung malang kiranya dapat diumpamakan seperti orang yang sedang terjatuh ke dalam jurang. Untuk membebaskan atau menolongnya seseorang tidaklah harus ikut menceburkan diri bersama dengannya. Tindakan yang bijaksana ialah berusaha mengangkat sahabat atau kerabat itu keluar dari jurang tersebut. Dengan kata lain, pertolongan yang diberikan kepadanya ialah memberikan bimbingan “Spirit (semangat)” agar dia sadar bahwa didunia ini memang tidak ada sesuatu yang bersifat kekal (langgeng).

 

BAB II

MENGAPA MANUSIA HARUS MATI

Allah pada awalnya menciptakan manusia bukanlah untuk kematian, melainkan untuk kekekalan. Adam diciptakan sesuai dengan Citra-NYA. Ia ditempatkan di sorga firdaus, kemudian dari tulang rusuknya di bentuklah seorang perempuan (Hawa) sebgai pasangan hidupnya.

Allah mengizinkan untuk memakan buah dari segala pohon yang ada disurga kecuali “ pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat” dan “pohon kehidupan” yang dalam islam disebut dengan “ma’ul hayat” atau dalam hindu atau buddha dinamakan “kalpataru”.

Didalam surga firdaus terdapat juga ular. Dituturkan bahwa ular adalah binatang yang paling cerdik diantara segala binatang di darat yang dijadikan Allah. Singkat cerita Hawa terkena bujukan ular ini, akhirnya mengambil buah larangan dan membaginya dengan adam.
Mengetahui perintah-NYA dilanggar, Allah murka. Ular dikutuk menjadi hewan yang berjalan dengan perut dan dijadikan musuh abadi anak turunnya Adam. Dalam pada itu, Allah merasa bahwa kedaulatan-NYA kini terancam oleh sifat keingintahuan manusia, dimana manusia ingin tahu atas segalanya.
Allah tidak rela membagi kelebihan ini kepada yang lain, sebab apabila ada pihak lain entah manusia, malaikat,iblis atau binatang berhasil memilikinya, keberadaan Allah dalam alam semesta yang diciptakan-NYA niscaya menjadi tidak berbeda.

Ini diakui sendiri oleh Allah sebagaimana tersurat dalam firman-NYA “ sesungguhnya manusia telah menjadi seperti salah satu dari kita, mengetahui kebaikan dan kejahatan; maka sekarang janganlah sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula buah kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya”

Takut kalau manusia berbuat lebih jauh lagi dengan mengambil buah pohon kehidupan yang dapat membuat kekal (hidup selama-lamanya), maka Allah segera mengusir dari Surga Firdaus. Merasa khawatir bahwa tindakan pencegahan ini masih belum cukup aman, Allah memagari pohon kehidupan itu dengan pemandangan yang menyala-nyala dan menyambar-nyambar (hijab).

Demikianlah ringkasan kisah yang menceritakan kejaAllah manusia ke dalam dosa (melanggar perintah Allah), yang membuat seluruh manusia keturunan Adam mewarisi kematian “ Sebagaimana dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan kematian melalui dosa, begitulah kematian tersebar luas ke seluruh umat manusia”.

 

  1. Refleksi terhadap kematian

Manusia diciptakan seorang diri dan haruslah waspada bahwa ia akan mati seorang diri juga.  Selama hidupnya ia selalu hidup untuk memenuhi segala keinginan hawa nafsunya, dan padahal manusia sadar saat mengalami kematian semuanya tidak ada yang dibawa, semua hasil memuaskan hawa nafsunya ditinggalkan.

Masyarakat jawa menyakini bahwa semasa hidup didunia ini “laksana bercocok tanam”, siapa menanam kebajikan maka akan menuai kebaikan, begitupun sebaliknya.

****( Terdapat unen-unen yang bisa kita renungkan, dan hal ini sering dibuat bahasan oleh kami, “Isih urip ae wis ngedeni uwong, opo maneh lek wes mati “ Masih hidup saja sudah nakut-nakuti orang apalagi kalau sudah Mati : Bocah Angon)

 

  1. Kematian sebagai sebuah refleksi awal penciptaan

Filsuf Yunani Socrates melalui tulisan muridnya Plato menyampaikan” filsuf sejati adalah mereka yang justru bergembira dengan tibanya kematian. Melalui kematuanlah seseorang bisa leluasa memurnikan jiwanya dari pengarh ragawi, keterikatan, dan nafsu tubuh”.
Sejarah telah banyak mencatat kisah-kisah kematian yang dramatik namun begitu tulus, sebutlah Isa Al Masih, Mansyur al Hallaj, Syech Siti jenar, dll.

BAB III

ALLAH DALAM PANDANGAN MASYARAKAT JAWA

  1. Upaya Orang Jawa Dalam Mencari Allah

Berdasarkan pengertian bahwa Allah bersatu dengan ciptaanNYA, maka masyarakat jawa menggambarkan usaha pencariannya dengan memanfaatkan simbolisasi guna memudahkan pemahaman.

Pada sebuah kidung dhandhanggula digambarkan : Ana pandhita akarya wangsit, kaya kombang anggayuh tawang (seperti kumbang yang ingin terbang kelangit), susuh angin (sarang burung) ngendi nggone, lawan galihing kangkung (inti kangkung), watesane langit (batas cakrawala) jaladri, tapake kuntul mabur ( bekas telapak burung kuntul yang terbang) nglayang lan gigiring panglu (pinggir dari bumi/globe)….
Di sini jelaslah yang dicari merupakan sesuatu yang tidak tergambarkan atau tidak dapat disepertikan (Tan kena Kinaya Ngapa). Sehingga masyarakat jawa menyatakan bahwa hakikat Allah adalah sebuah kekosongan, Suwung.

Logikanya, apabila hakikat Allah adalah kekosongan, maka untuk menyatukan diri dengan sang maha kosong kitapun harus kosong. Dengan menghilangkan muatan-muatan yang membebani jiwa, seperti nafsu dan keinginan.

  1. Metode Pencarian

Salah satu cara pencarian hakikat Allah adalah dengan berpuasa atau tirakat sebagai perwujudan laku pencarian tersebut.

  1.  ****( Tapa mutih, yaitu minum air putih dan makan satu jenis makan dengan tanpa garam selama 40 hari. Sebagai contoh air putih dan nasi putih tanpa tambahan apa-apa selama 40 hari. : Bocah Angon)
  2. Tapa Ngrowot, makan sayuran saja.
  3. ****(Tapa Pati Geni, berpantangan makanan yang dimasak menggunakan api, tidak tidur dan dilakukan ditempat gelap/tidak ada cahaya.: Bocah Angon)
  4. ****(Tapa Ngebleng, Tidak makan dan minum selama 7 / 13 / 19 / 21 hari.: Bocah Angon)
  5. ****(Tapa kungkum, Merendam diri di Pertemuan arus selama 40 hari.:Bocah Angon)
  6. Tapa Ngeli, Menghanyutkan diri di air.
  7. ****(Tapa pendem, mengubur diri hingga nampak leher saja.:Bocah Angon)
  8. Tapa Nggantung, Mengantung diri dipohon atau tidak menginjak tanah.
  9. Tapa Ngrame, Diri tetap tenang walaupun di tengah hirup-pikuk aktifitas manusia, selain itu siap berkorban atau menolong siapa saja, dan kapan saja
  10. Tapa Brata, Bersemedi dengan khidmat.

     Untuk memahami makna puasa pencarian dengan metode puasa, perlu diingat beberapa hal, antara lain :
Pertama, Dalam menjalani lelaku spiritual puasa, tata caranya berdasarkan panduan guru-guru kebatinan.

Kedua, Dikarenakan ritual ini bernuansa mistik, maka penjelasannyapun memakai sudut pandang tasawuf/mistis dengan mengutamakan RASA dan mengesampingkan akal/nalar.

Ketiga, Dalam budaya mistis jawa terdapat etika guruisme, dimana murid melakukan taklid buta (patuh, tunduk dengan tidak ada pertanyaan) pada sang Guru.
**** = Bocah Angon

  1. Hakikat Penyembahan Allah Bagi Masyarakat Jawa

“ Sukma rimbag wutuh den-tingali, saosike ya sukma belaka, wujud ing sukma tan pae, wus tan kengang binastu, woring jati kula lan Gusti, Maha Gusti ta kula, sih kajatenipun, lamun tan kadyeka, kula misih kula, Gusti misih Gusti, tan kengang wor-winoran”.
Artinya, Sukma sepertinya utuh kalau dilihat, segala gerak adalah sukma itu sendiri, wujud sukma sudah tidak bisa dibedakan melebur menyatu, menyatunya kesejatian “kawulo” atau hamba dan “Gusti” atau Allah, Maha Gusti dengan kawulo, kesejatian kasih, tetapi walaupun sepertinya tidak bisa dibedakan, kawulo masih tetap kawulo, Gusti tetap Gusti, tidak bisa dicampuradukkan.
Sembah adalah pujian bagi Allah semesta alam yang berati juga menghormati dan memujaNYA, istilah lainnya adalah Pujabrata. Ada guru laku yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang itu tidak diperkenankan melakukan Pujabrata, sebelum ia melewati Tapa brata.

  1. Sembah raga
    Laku ini adalah tapa yang berkenaan dengan badan jasmani. Selama ini badan hanyalah mengikuti perintah batin dan kehendak. Badan maunya menyenang-nyenangkan diri, merasa gembira tanpa batas.
    Mulai hari ini, usahakan supaya badan menuruti kehendak cipta, demgan jalan : bagun pagi hari dan mandi, jangan malas, lalu sebagai manusia normal bekerjalah (disiplin diri). Pelajarilah ilmu luhur yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain.
  2. Sembah Cipta
    Terdiri dari dua tahapan, pertama harus melatih pikiran kepada kenyataan kawula mengenal gusti. Kedua, harus selalu mengerjakan hal yang baik dan benar, mengontrol nafsu dan menaklukkan keserakahan. Sehingga diharapkan “rasa” akan menjadi tajam dan “diri” akan mulai melihat kenyataan.
    Berlatih Cipta;
    1. Lakukan dengan teratur, ditempat yang sesuai.
    2. Konsentrasikan rasa.
    3. Jangan memaksa raga, laksanakan dengan pelan dan santai.
    4. Kehendak yang jernih dan fokus.
    5. Rutinkan melakukan ini, sampai hal yang dikerjakan ini adalah sesuatu yang memang harus dikerjakan, dan sama sekali tidak menjadi beban (keteguhan hati).
    Saat berada dijalan menuju kenyataan sejati, merasa tidak ingat apapun, seolah raga dan pikiran tidak berfungsi, tetapi jiwa tetap (eling). Itulah heneng dan hening dan sekaligus eling dari rasa sejati (kesadaran).
  3. Sembah Jiwa
    Dengan rasa yang mendalam, menggunakan suksma jiwa yang telah ditemui saat heneng, hening dan eling untuk menyembah pada Allah YME. Ini adalah sembah batin, tidak melibatkan lahir.
  4. Sembah Rasa
    Sembah ini ditandai dengan dimengertinya dari mana manusia berasal, mengerti dengan sempurna untuk apa manusia diciptakan, mengerti tujuan hidup, mengerti dengan sempurna atas kenyataan hidup, mengerti akan keberadaan semua makhluk hidup dan memahami kemana akan kembali (sangkan paraning dumadi).
    Hubungan Antar Kawula dan Gusti seperti manisnya madu dan madunya, tidak terpisahkan. Nyinau ngilmu kedah ngertos ilmuni pun, ilmu bebukanipun sarana pikir ,ngilmu lelabetan kalian laku, olehipun sampurna kedah kekalih, menawi sampun lajeng kagunaknya adamel uruping sasamnya samodraning guna agesang.
  1. Konsep Allah dalam Sedulur Papat Kalimo Pancer dan Etimologi Aksara Jawa

Dalam universalisasi falsafah jawa dinyatakan bahwa manusia adalah titah dumadi yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harmonis dengan jagad rat pramudita (jagad raya seisinya).
Sehingga prinsip universal ini yang melahirkan istilah “ sedulur tunggal dina kelahiran” (saudara satu hari kelahiran), yaitu bahwa apapun makhluknya yang tumbuh/muncul/lahir bertepatan dengan saat seseorang dilahirkan, maka makhluk tersebut dianggap sebagai saudara. Hal ini menegaskan bahwa walaupun manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan mulia serta mengajarkan agar sebagai khalifah janganlah bersikap sombong dan arogan.

Dengan adanya saudara tunggal hari kelahiran ini, maka setiap manusia akan berhati-hati dalam tindakannya. Ia tidak akan merusak alam semesta ini dengan segala tingkah polahnya karena khawatir menyakiti saudara-saudaranya.

Pada zaman dahulu orang jawa membuat minuman dawet ketika hewan ternaknya melahirkan, hal ini sebagai pelaksanaan merayakan gumelaring titah dumadi, yaitu penciptaan makhluk oleh sang pencipta.Sayangnya keluhuran budi ini sering dianggap sebagai tahayul, gugon tuhon, bahkan tidak sedikit dianggap sesat dan bid’ah. Sehingga sekarang bisa dilihat akibat dari tidak menghargai akan keluhuran budi tersebut, orang menjadi beringas, menilai bahkan merusak apa saja yang tidak sama. Ia tidak ingat kalau statusnya sebagai “khalifah”, yang mana seharusnya menjadi orang yang bijak dan bajik. Nafsunya menguasai “rasa” sehingga tumpullah sudah persaudaraan sesama makhluk.

Jawa sendiri mengandung arti “kesadaran budi”, sehingga apabila orang mengetahui, menyadari bahkan memahami ini tentunya setiap manusia akan selaras dengan keinginan Allah, yaitu sebagai khalifah/ utusan didunia ini yang “ Hamemayu Hayuning Buwono / Rahmatan lilalamin”.****(Bocah Angon)

Allah juga berfirman “ bahwa telah jelas kerusakan yang terjadi di muka bumi ini adalah akibat ulah manusia sendiri”. Sehingga jangan pernah menyalahkanNYA untuk semua nestapa yang dialami manusia. Seringnya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, tsunami bukanlah takdir, semua terjadi atas ulah manusia.

Salah satu konsep kesadaran budi yang dipegang oleh masyarakat jawa adalah bahwa manusia (jagad cilik) adalah bagian dari alam semesta (jagad Besar). Hal ini menyadarkan bahwa kedua jagad ini harus selalu dalam keadaan harmonis. Artinya dalam setiap hembusan nafasnya manusia selalu sadar bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta dan tentunya ia harus “Hamemayu Hayuning Buwono”. Dari hal inilah muncul falsafah “ Sedulur Papat Lima Pancer”.

Sedulur papat tiada guna tanpa adanya pancer, dan pancer tiada berfungsi tanpa bantuan sedulur papat. Konsepsi sedulur papapt dimulai saat seseorang masih berada didalam “guwa garba / bumi suci” seorang ibu. Didalam rahim ada 4 komponen utama yang mendukung kehidupan janin. Air ketuban, ari-ari (tembuni), pusar dan darah. Air ketuban berfungsi menjaga bayi, meredam benturan. Ari-ari menyerap sari makanan dari ibu. Pusar menjalankan tugas sebagai saluran. Darah membawa sari-sari makanan yang diserap ari-ari kedalam tubuh si bayi.

Saat proses kelahiran air ketuban keluar mendahului bayi, disebut dengan kakang kawah, tempatnya di Timur, warnanya putih. Plasenta keluar setelah bayi bayi, disebut dengan adhi ari-ari, tempatnya dibarat, warnanya kuning. Darah disebut dengan Ponang Getih, tempatnya di selatan, warnanya merah dan terakhir puser, tempatnya diutara warnanya hitam. Bayi sebagai pancernya. Ketiadaan salah satunya, membuat unsur yang lain tiada berguna.

Seorang bayi bersama empat saudaranya setelah lahir, sebenarnya hanyalah berpindah tempat. Dari Bumi suci “kandungan” ibu ke Bumi mulyo, yaitu berpindah kedalam kandungan ibu pertiwi atau alam semesta ini.

Ketika lahir, sedulur papat dan pancer-nya disebut sebagai “ sedulur tunggal pertapaan, nunggal sak wat, ning beda-beda panggonane”, yang artinya : saudara satu tubuh, keluar lewat jalan yang sama, tetapi berbeda-beda tempatnya.

Hubungan Allah dan Manusia dalam pemahaman aksara jawa adalah sebagai berikut :
HA : Hana hurip wening suci, adanya hidup adalah kehendak dari Yang Maha Suci.
NA : Nur candra, gaib candra, warsitaning candra, Pengharapan manusia hanya selalu sinar illahi.
CA : Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi, satu arah satu tujuan pada Yang Maha Tunggal.
RA : Rasaingsun handulusih, rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani.
KA : Karsaingsun memayuhayuning bawana, Hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam.

 

DA : Dumadining dzat kang tanpa winangenan, menerima hidup apa adanya.
TA : Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa, Mendasar, totalitas, visi, ketelitian dalam memandang hidup.
SA : Sifat ingsun handulu sifatullah, Sifat kasih sayang ku seperti kasih Allah.
WA : Wujud hana tan kena kinira, Ilmu manusia terbatas, namun aplikasinya bisa tanpa batas.
LA : Lir handaya paseban jati, Mengalirkan hidup semata pada Illahi.

 

PA : Papan kang tanpa kiblat, Hakikat Allah ada di segala arah.
DHA : Dhuwur wekase endek wiwitane, Untuk bisa di atas tentu dimulai dari dasar.
JA : Jumbuhing kawula lan Gusti, Selalu berusaha menyatu dan memahami kehendak-NYA.
YA : Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi, Yakin akan titah/kodrat Illahi.
NYA : Nyata Tanpa Mata, ngerti tanpa diuruki, memahami kodrat kehidupan.

 

MA : Madep mantep manembah mring illahi, Yakin dan mantap dalam menyembah Illahi.
GA : Guru sejati sing muruki, Belajar pada guru yang bernama Hati Nurani.
BA : Bayu sejati kang andalani, Menyelaraskan diri pada gerak alam.
THA : Tukul saka niat, Segala sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan.
NGA : Ngracut busananing manungso, Melepaskan egoisme pribadi Manusia.

 

Ajaran/Filsafat Hidup yang disampaikan oleh Paku Buwana IX berdasarkan aksara jawa, yang dimulai dari tembang kinanthi;
Nora kurang wulang wuruk, tak kurang piwulang dan ajaran.
Tumrape wong tanah jawa, bagi orang tanah jawa.
Laku-lakune ngagesang, perilaku dalam kehidupan.
Lamun gelem anglakoni, Jika mau menjalaninya.
Tegese aksara jawa, maknanya aksara jawa.
Iku kang guru sejati, itu guru yang sejati.

 

Ajaran hidup itu adalah sebagai berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada utusan, yakni utusan hidup, berupa napas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Ada yang mempercayakan (Allah), ada yang dipercaya (manusia) dan ada yang dijalankan (kewajiban manusia).

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data : “saatna (dipanggil), tidak boleh sawala : mengelak. Manusia harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Allah.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya Dzat pemberi Hidup (Allah) dengan yang diberi hidup (Makhluk). Maksudnya padha : sama atua sesuai, jumbuh, cocok Tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya berarti menang atau unggul. Sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan, sekedar menang atau menang tidak sportif.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala perintah dan larangan Allah. Manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha menanggulanginya.

 

Triwikrama wisnu sebagai perwujudan kelahiran manusia di dunia      

Triwikrama adalah tiga langkah “ Dewa Wisnu “ atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam melakukan proses penitisan. Awal mela kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan Allah namun masih berada di alam sunyaruri yang jenjem Jinem, dinamakan sebagai zaman Kertayuga, yaitu Zaman yang serba adem tenteram dan selamat didalam alam keabadian.

Di alam tersebut roh belum terpolusi nafsu jagad dan duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh “setan” (nafsu negatif). Dari alam keabadian selanjutnya roh manitis yang pertama kali, yakni masuk kedalam “air” sang bapa, dinamkanlah zaman Tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa kemudian menitis ke dalam rahim sang rena (ibu).

Penitisan atau langkah kedua dewa wisnu ini berproses di dalam Zaman Dwaparayuga. Sebagai zaman keanehan, karena asal mula wujud sukma adalah berbadan cahaya, lalu mengejawantahlah mewujud menjadi jasad manusia. Sang bapa mengukir jiwa dan Sang Rena yang mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia berproses di dalam rahim Sang Rena dari wujud badan cahaya menjadi badan raga. Itulah zaman keanehan atau dwaparayuga.

Setelah 9 bulan lamanya dewa wisnu berada di dalam zaman dwaparayuga, kemudian langkah Dewa wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni lahir ke bumi menjadi manusia yang utus dengan segenap jiwa dan raganya. Penitisan terakhir dewa wisnu ke dalam zaman mercapadha.
Merca artinya panas atau rusak, padha berarti papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga sebagai madyapada, madya itu tengah, dan padha berarti tempat.Tempat yang berada ditengah-tengah, terhimpit diantara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum kelahiran dan gaib setelah ajal.

Di zaman madya atau mercapadha ini manusia memiliki kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai pembawa unsur “ setan” , setan disini tidak untuk difahami sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda iman, melainkan sebagai kata kiasan nafsu negatifyang ada di dalam segumpal darah (kalbu). Mercapadha merupakan perjalanan hidup paling sedikit, namun paling berat dan sangat menakutkan kemuliaan manusia dalam kehidupan sebenarnya yang abadi dan kekal.

 

Konsep Kehidupan hingga kematian dalam Tembang Jawa

Salah satu pesan yang tertuag dalam serat Wulang Reh adalah “ Yen sira waskita, sampurna in badanira, sira anggegurua. Apabila engkau ingin bijaksana, mencapai kesempurnaa dalam kehidupanmu, maka bergurulah.

Berguru bisa pada siapa saja, karena apapun yang ada di alam semesta ini akan selalu memberikan petunjuk bagi siapa saja yang mau belajar. Dlam berguru, kita diajak untuk tidak sombong, mau mendengarkan orang lain, berpikiran terbuka. Orang bijaksana akan belajar dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

Hampir semua ksatria utama yang telah mencapai tahapan mukti akan memiliki keinginan utama, yaitu memuliakan para leluhurnya. Mereka mengasah kewaskitaan melalui laku spiritual, laku prihatin dan banyak belajar pada alam, sehingga kan kelihataan kewibaannya. Apalgi kalu terkena sinar blencong, maka akan katon tejane.

Laku spiritual puncak dapat diibarakan telah mencapai tahapan Manyura, dalam bahasa kawi berarti burung merak. Artinya, ia sudah merah atau nyedhak kepada sang pencipta.

Perjalan Kehidupan manusia digambarkan dalam pertunjukan wayang, salah satunya dengan beraneka ragaman dan komposisi gending yang digunakan. Diawali dengan gending patalon atau gending pembuka sebelum dalang memainkan wayang. Gending berikutnya adalah gending cucur bawuk. Cucur atau kue cucur, Bawuk adalah kemaluan anak wanita. Sehingga cucur bawuk menggambarkan kehidupan anak-anak yang polos, original, penuh fantasi dan indah.

Dilanjutkan dengan gending Pare Anom. Pare Anom adalah pria yang masih muda, gambaran masa remaja yang ceria. Dilanjutkan dengan Ladrang srikaton yang mempunyai irama yang lincah, agung, dan dinamis. Gambaran Puncak kehidupan manusia yang berada pada puncak karier dan prestasi.

Memasuki masa paro ketiga yang terakhir adalah masa-masa seseorang harus sudah mendekatkan diri pada Sang Khalik. Diisyaratkan dengan gending Ketawang suksma Ilang. Gending yang cepat dan menghentak, yaitu Srepeg dan sampak, gending ini melambangkan suksma melayang, nyawa meninggalkan Tubuh. Akhir dari komposisi gending ini adalah makin pelan, lirih kemudian menghilang dengan damai.

Para Leluhur zaman dahulu telah menggambarkan proses perkembangan manusia dari lahir hingga mati, selangkah demi selangkah yang digambarkan dalam tembang macapat (membaca sipat). Bentuk karyanya mengikuti tata aturan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan, selain itu penggunaan tembang ini sesuai dengan suasana lingkungan dan susana hati pelantunnya.

 

Ringkasnya, berbagai lirik nada yang digubah kedalam berbagai bentuk tembang menceritakan sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia sebagai sebuah perjalanan yang harus dilalui oleh setiap insan, dengan harapan agar bisa sebagai pepeling dan saka guru untuk perjalanan hidup setiap manusia. Berikut alurnya :

  1. Mijil
    Mijil artinya Lahir. Hasil olah raga dan jiwa laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Sang bayi sudah terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga selama 9 bulan, namun dia harus netepi titah gusti, maka lahirlah ke Mercapadha. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan yang memilukan. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagai kekuatan getaran mantra tanpa tinulis.
  2. Maskumambang
    Setelah Sang bayi lahir, membuat hati orang tua diliputi perasaan bahagia, dijaganya tiap malam agar jangan samapai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tua untuk mengukir masa depan.
  3. Kinanti
    Semula jabang bayi berwujud merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuanya sebagai anugerah dan berkah. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati, yang selalu menjaga bumi pertiwi.
  4. Sinom
    Sinom : isih enom/ masih muda. Jabang bayi berkembang menjadi remaja. Orang tua selalu berdoa disiang dan malam agar anak tidak salah arah dalam menentukan langkah. Pengalamannya belum banyak, batinya belum matang.
  5. Dhandanggula
    Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa, walaupun itu dilarang agama, orang tua. Angan dan asa melamun dalam keindahan dunia fana. Anak baru dewasa, remaja bukan, dewasa juga belum. Masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia.
    Walaupun begitu orang tua tidak punya rasa benci kepada pujaan hati. Selau setia membimbing anak muda ini guna membuka panca inderanya.
  6. Asmaradana
    Asmaradana atau asmara dahana yaitu api asmara yang selalu membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motivasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia miliknya saja. Apa yang dicitakan harus terlaksana, tidak peduli apapun akibatnya.
    Sudah menjadi tugas orang tua untuk membimbing dan mengarahkan, karena sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru. Jangan suka berpangku tangan tapi pandailah memnfaatkan waktu. Ikuti tindak-tanduk sang guru lagu, yang selalu sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah mengerutu.
  7. Gambuh
    Gambuh atau gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikan tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Dimana-mana kepingin diakui sebagai pejuang, walaupun hatinya tidak lapang.

Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, akan tetapi berani hidup untuk menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri. Kemana-mana terus berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi.

Ilmu yang didaptkan seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang,menjadikannya sakit hati dan rendah diri.Jika tidak Tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadikannya pemuda-pemudi yang jauh dari anugerah Ilahi.

Maka belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan (heran) dan kagetan (kaget). Bila sudah paham hayatilah dan praktekkanlah dalam setiap perbuatan, agar kau temukan dirimu yanng sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.

  1. Durma
    Munduring Tata Krama. Tembang durma diciptakan untuk mengingatkan sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat.
    Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Manusia cenderung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi.
    Manusia walaupun tidak mau di sakiti, namun gemar manyakiti orang lain. Suka berdalih dengan niat baik. Itulah keadaan manusia, suka bertengkar, emosi tak terkendali, mencelakai dan menyakiti. Maka berhati-hatilah, orang yang beruntung adalah orang yang selalu eling lan waspada.
    Dalam cerita wayang purwa dikenal beberapa tokoh jahat. Sebut saja Dursasana, Durmagati, Duryudana. Dalam terminilogi jawa istilah Dur/ dura ( nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon).
  2. Pangkur
    Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Siang malam selalu berdo’a, sementara raga sudah tidak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Ke-sana kemari ingin mengaji diri. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulah dimasa lalu yang gemar mentang-mentang.
  3. Megatruh
    Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh datangnya ajal akan tiba sekonyong-konyong.
    Terlanjur tidak paham jati diri. Selama ini menyembah Allah dengan penuh pamrih, karena takut neraka dan berharap pahala surga. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia dan alam semesta. Penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan sejati, dimana manusia tidak sadar diri selama ini sering merasa benci, iri hati dan dengki.

Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakannya ia merasa paling pintar, namun segala keburukan yang dilakukannya dianggapnya demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri.

  1. Pocung
    Pocung ataou pocong adalah orang yang telah mati, lalu dibungkus kain  kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi.

Bagi orang baik, kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali. Sementara bagi durjana, saat meregang nyawa tiada yang peduli. Seram mengancam dan mencekam.

Allah Maha Tahu dan bijaksana tak pernah luput dalam menimbang kebaikan dan keburukan, walaupun itu sejumput. Manusia saat itu baru sadar, yang dituduh kafir belum tentu kafir menurut Allah, yang dianggap sesat beleum tentu sesat menurut Allah. Malah yang suka menuduh menjadi tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah.Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan ini kudu jeli, nastiti, dan ngati-ngati. Jangnlah suka menghakimi orang hanya karena tidak sefaham dengan kita. Lebih bak kita mawas diri, agar  kelak saat mati arwahmu tidak nyasar dan kemudian menjadi Memedi.

  1. Wirangrong
    Hidup didunia ini penuh dengan siksaan, derita, pahit, dan getir, musibah dan bencana. Namun manusia bertugas untuk mengubah itu semua menjadi anugerah dan bahagia. Manusia harus melepaskan derita diri pribadi, maupun derita orang lain. Manusia harus saling asah asih dan asuh kepada semua.

Hidup yang penuh cinta kasih dan sayang bukan berarti mencintai dengan membabi buta. Manusia harus peduli, memelihara dan merawat, tidak membuat kerusakan bagi sesama manusia lainnya, bagi makhluk hidup maupun jagad raya. Itulah nilai kehidupan yang bersifat Universal, sebagai wujud nyata memayu Hayuning Bawana, Rahmatan lil alamin.

Janganlah terlambat. Akan mengadu pada siapa jasad setelah masuk liang lahat (ngerong). Wirangrong, Sak wirange mlebu ngerong, berikut segala perbuatan memalukan selama hidup ikut dikubur bersama jasad yang kaku. Keburukannya akan diingat masyarakat, aibnya dirasakan anak cucu.

Tidak pandang bulu, yang kaya atau melarat, pandai ataupun bodoh, keparat, rakyat jelata maupun berpangkat. Semua itu sekadar pakaian dunia, tidak bisa menolong kemuliaan akhirat. Hidup didunia sangatlah singkat, namun kenapa manusia banyak yang keparat. Ajalnya mengalami sekarat. Gagal total merawat barang titipan Yang Maha Kuasa, yakni segenap jiwa dan raganya.

Jika manusia tidak bermanfaat untuk kebaikan kepada sesama umat dan seluruh jagad, merekalah manusia bejat dan laknat. Orang kaya namun pelit dan suka menindas, orang miskin namun kejam dan pemarah, orang pandai namun suka berbohong dan licik, orang bodoh namun suka mencelakai sesama.

Bahagia tak terperi, kemana-mana pergi dengan mudah sekehendak hati. Ibarat “lepas segala tujuannya” dan “luas kuburnya”. Tiada penghalang lagi, seringkali menengok anak, cucu, cicit yang masih hidup di dimensi bumi. Senang gembira rasa hati, hidup sepanjang masa di alam keabadian yang langgeng tan owah gingsir.
Ilmu hidup yang tergelar di jagad raya, sebagai “ papan tanpa tulis” atau “sastra jendra”, semuanya berada dalam rumus Sang Hyang Mahawisesa. Termanifestsikan kedalam kodrat alam/hukum alam semesta. Nembang Macapat itu adalah “ Olah rasa dana olah Jiwa”.

 

BAB IV
UPACARA KEMATIAN MASYARAKAT JAWA

Semua orang pasti suatu saat akan mati, entah bagaimana caranya atau seperti apa matinya. Dan setiap orang pasti akan merasakan kematian, walaupun arti “merasakan” itu tidak sama dengan yang dipersepsi oleh orang yang hidup.

Bagaimananpun cara orang melihat kehidupan akan sangat terkait dengan bagaimana orang mempersepsi kematian. Ketentuan takdir kehidupan ini adalah bagian dari pengejawantahan akan hukum keselarasan alam (Istilah Plato : mimesis). Masyarakat jawa dalam memahami konsep ini tercermin dari filosof bahwa “ urip iki mung mampir ngombe (hidup ini hanya mampir minum)”, atau “urip ki mung sakdermo nglakoni (hidup ini hanya sekedar menjalani)”, atau “nrima ing pandum (menerima pemberian Allah)”.

Pribadi yang selaras adalah pribadi yang tenang dalam segala situasi dan kondisi perubahan, baik hal yang menyenangkan ataupun tidak. Hal ini salah satunya dicapai dengan olah rasa, seperti meditasi.
Meditasi identik dengan penguasaan atas ngelmu atau kawruh tentang “panracutan / pangukutan”. Dalam tarekat jawa, konsep “urip (hidup)” sebagai suatu entitas abadi “ urip tan kena ing pati”. Harapan dari kesemua konsep diatas adalah agar manusia memahami betul akan “sangkan paraning dumadi”. Dalam tembang dhandanggula di jelaskan “
“ Kawruhana sejatining urip “
“ Urip ono jroning alam donya “
“ Bebasane mampir ngombe “
“ Umpama manuk mabur “
“ Lunga saka kurungan neki “
“ Pundi Pencokan benjang “
“ Awja kongsi kaleru “
“ Njan-sinajan ora wurung bakal mulih “
“ Umpama lunga sesanja “
“ Mulih mulanira

Artinya “ ketahuilah sejatinya hidup, hidup didalam alam dunia ini, ibarat perumpamaan mampir minum, ibarat burung terbang, pergi jauh dari kurungannya, dimana hinggapnya besok, jangan sampai keliru, umpama orang pergi bertandang, saling bertandang, yang pasti bakal pulang, pulang ke asal muasalnya.
Simaklah sebuah tembang dari syekh siti jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya adalah sebagai berikut “ Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong mati, mulane kowe padaha konthal-kumanthil marang kahanan ing donya, sarta suthik aninggat donya”. Artinya “ Kalian semua banyak berpendapat terbalik, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akhirat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggal alam dunia”

Siti jenar menambahkan penjelasannya “ Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene ki anane swarga lan neraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu lan kere, wali karo bajingan,…”
Artinya “ Pada kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, didunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan,..”
Wejangan para leluhur mengatakan “ Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati”, hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian.
Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siap kah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?, ajaran leluhur juga menjelaskan : “ Tengeh lamun siro biso ngerti sampurnaning pati, yan sirao ora ngerti sampurnaning urip”. Artinya “ mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna, jka kamu tidak mengerti hidup yang sempurna.

 

Selamatan kematian

Menurut Bratawidjaja (1993), setiap selamatan kematian seperti tersebut dibawah ini memiliki makna terkait dengan “ kepergian “ roh yang meninggal (kaitannya dengan upaya penyempurnaan roh dan jasad manusia) .
Penghitungan menggunakan hari dan pasaran :

  1. Ngesur tanah dengan rumus jisarji, maksudnya hari kesatu dan pasaran juga ke satu.
  2. Nelung dina dengan rumuslurasu, yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga.
  3. Menujuh hari (mitung dina) dengan rumus tusaro, yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua.
  4. 40 hari (matangpuluh dina) dengan rumus masarama, yaitu hari kelima dan pasaran kelima.
  5. 100 hari (nyatus dina) dengan rumus rosarama, yaitu hari kedua pasaran kelima.
  6. Peringatan tahun pertama (mendhak pisan) dengan rumus patsarpat, yaitu hari keempat dan pasaran keempat.
  7. Peringatan tahun ke-2 (mendhak pindho), dengan rumus jisarly, yaitu hari satu dan pasaran ketiga.
  8. Peringatan seribu (nyewu) dengan rumus nemasarma, yaitu hari ke enam dan pasaran ke lima.

 

Tafsirannya adalah sebagai berikut :

 Ngesur tanah, bermakna bahwa jenazah telah dikebumian, berarti memindahkan dari alam fana ke alam baka, asal manusia dari tanah akan kembali ketanah.

Selamatan meniga, bermakna untuk menyempurakan empat perkara yang disebut dengan anasir hidup manusia, yaitu bumi, api, angin, dan air. Selain itu juga dimaksudkan untuk memberikan penghormatan pada roh yang meningalkan badan wadag. Masyarakat jawa berkeyakinan bahwa roh tersebut masih berada dirumah dan mulai mencari jalan untuk meninggalkan rumah.

Selamatan tujuh hari, untuk menyempurnakan kulit dan kuku. Selain itu pihak keluarga meminta pengampunan dengan membaca tahlil, berasal dari kata arab, halla, yang berarti membaca kalimat “laillaha illallah”, agar dosa yang meninggal diampuni.

Selamatan 40 hari, untuk menyempurnakan pembawaan dari ayah dan ibu yang berupa darah, daging, sumsum, jeroan (isi perut), kuku rambut, tulang dan otot. Selain itu selamatan matangpuluh dina ini dimaksudkan untuk memberikan penghormatan kepada roh yang sudah mulai meninggalkan pekarangan menuju alam baka.

Selamatan 100 hari, untuk menyempurnakannsemua hal yang bersifat badan wadag. Selamatan mendhak pisan untuk menyempurnakan semua kulit, daging dan jeroan. Selamatan mendhak pindho menyempurnakan semua kulit, darah dan semacamnya yang tinggal hanyalah tulangnya saja. Selain itu untuk memberikan penghormatan terhadap roh yang sudah dialam baka. Di alam ini, ROh masih sering kembali kekeluarga hingga peringatan “mendhak” tahun ke dua.

Selamatan mendhak ketiga, untuk menyempurnakan rasa dan bau sehingga semua rasa dan bau lenyap. Roh baru akan pergi dan tidak kembali setelah peringatan 1000 hari.

 

BAB V
HIDUP & MATI DALAM KAJIAN SASTRA JAWA

 

  1. Hakekat kematian dalam serat Pangracutan
    Serat kekayasaning Pangracutan adalah karya sastra sultan Agung Anyakrakusuma Raja Mataram (1613 – 1645). Serat kekayasaning Pangracutan ditulis ulang oleh R.ng Ronggowarsito. Karya sastra ini juga merupakan sumber dari Wirid Hidayat Jati yang ditulis juga oleh Ronggowarsito.

Serat kekayasaning Pangracutan adalah hasil temu nalar Sultan Agung dengan para ahli kasampurnan, seperti Panembahan Purbaya, Panembahan Juminah, Panembahan RAtu Pekik di Surabaya, Panembahan Juru Kithing, Pangeran kadilangu, Pangeras Kudus, Pangeran Tembayat, Pangeran Kajoran, Pangeran Wangga, Kiai Penghulu Ahmad Katengan. (baca : Serat Kekiyasaning Pangracutan)

 

  1. Kematian Dalam Pandangan Syekh Siti Jenar
    Ajaran Syekh Siti Jenar menyatakan bahwa “ dunia ini adalah kematian”. Dunia adalah alam kuur dan raga adalah sebuah teralis besi yang menahan jiwa berada di dunia dan merasakan kesusahan, haus, lapar dan kesedihan.
    Hakikat hidup adalah kekal selamanya dan tak tertimpa kematian. Ketika manusia lahir, dia sebenarnya “born to die”, lahir untuk menuju kematian.

KebuAllah kita didunia akan sandang, pangan, papan adalah untuk menunda kematian dan untuk menemukan jalan hidup.
Bila manusia tidak memikirkan lagi tentang syariat, tarekat, hakikat dan makrifat, maka dirinya telah menuju “ manunggaling kawulo Gusti”. Sehingga realitas manusia sejati bisa berasal dari islam, kristen, budha, hindu ataupun lainnya, karena manusia sejati ini memenuhi kodratnya sebagai KhalifahNYA di dunia.
Menurutsyehk siti jenar dalam serat gatholoco, mati itu seperti uning unong uninong aning, artinya mati itu seperti orgasme. Sama-sama melepaskan beban, melepaskan emosi dan ketengangan. Sehingga terasa lega.

Pada suatu kesempatan sunan kudus berkesempatan melemparkan pertanyaan simbolik kepada Ki Ageng Pengging, sebagai berikut : Kalamun ingsun kapanggih kalawan kekasihingwang, dadi kawula pan mami, kalamun ingsun kapisah kalawan kekasih mami, sun dadi ratu, ratu ratuning sabumi, ratu angratoni jagad. Sapa sejatiningsun, lan sapa kekasihingwang?” (manakala aku bertemu dengan kekasihku, aku menjadi kawula (hamba), manakala aku terpisah dengan kekasihku, aku menjadi Raja, Raja diraja seluruh bumi, raja yang merajai jagad raya. Siapakah ingsun dan siapakah kekasih-ku?

Ki Ageng Pengging tersenyum sambil menjawab “ ingsun ya ingsun, datan ono telu, kasebut hyang paramashiwa, hyang sadashiwah lan hyang atma, telu-telune jatine tunggal!” (ingsun adalah ingsun, tiada lagi yang kedua ataupun ketiga, disebut juga hyang paramashiva, hyang sadashiva dan hyang atma, ketiga-tiganya sesungguhnya adalah satu)Kasebut ugi Allah, Rasul lan mukhammad, telu-telune tunggal uga!” ( Disebut juga Allah, Rasul dan Mukhammad, ketiga-tiganya sesungguhnya adalah satu juga).

Kang ingaranan kekasihingwang, ya jisim ya suksma, yen ingsun kapanggih kalawan jisim lan suksma, ingsun pan dadya ratu, ratune ing jagad, ya brahman ya Allah, Tan liyan saking punika!”” ( Yang disebut kekasih-ku, adalah jasad dan suksma, manakala ingsun bertemu dengan jasad dan suksma, ingsun menjadi kawula, manakala ingsun terpisah dengan jasad dan suksma, ingsun menjadi raja, raja diraja semesta, Ya Brahman YA Allah, tiada lain dari itu!)

Sunan kudus tersenyum mendengar jawaban Ki Ageng Pengging, perdebatan pun semakin panas. Sunan kudus bertanya lagi : “  Ana curiga kalawan warangka. Yen mung katon warangka, anengngendi curiganira?” ( Ada keris dan warangka. Manakala hanya terlihat warangka, dimanakah kerisnya?)

Ki Ageng Pengging menjawab “ Amanjing warangka. Manunggal anyawiji!” (masuk kedalam warangka. Manunggal mejadi satu!)

Sunan kudus bertanya kembali “ Yen mung katon warangka, aneng ngendi curiganira?”( Manakala hanya terlihat keris, dimanakah Warangkanya?) Ki Ageng Pengging menjawab, “ Amanjing Curiga. Manunggal anyawiji!” (masuk ke dalam keris. Manunggal menjadi satu)

Kemudian sunan kudus bertanya lagi, “ Yen musna ilang lelorone, dumunung ing ngendi?” (manakala hilang musnah keduannya, berada dimanakah?) Ki Aggeng Pengging menjawab, “ Dumunung aneng urip!” ( Berada di dalam hidup!)

Sunan kudus tertawa, lantas bertanya lagi “ Ana ing ngendi dununging urip?” (Dimanakah tempat kediamannya hidup?), Ki ageng pengging menjawab “ ana ing galihing kangkung, ana ing gigiring punglu, ana ing susuhing angin, ana ing wekasaning langi” (berada di inti tumbuhan kangkung, berada di sudut pelor, berada di kediaman angin, berada diakhir langit).

Kembali sunan kudus tersenyum, dan sunan kudus belum puas. Kembali ia melempar pertanyaan, “ Yen ilang alip, lebur marang lam awal lan lam akhir. Illang lam awal lan lam akhir, lebur marang ha’. Yen ha’ dumunung aneng ngendi?” ( Jika hilang huruf alif, maka lebur kadalam lam awal, dan lam akhir. Jika hilang lam awal dan lam akhir, lebur kedalam ha’. Jika ha’ lebur, berada dimanakah?) Ki Ageng menjawab , “ Urip!” (hidup).

Sunan kudus menyela, “Alip jisimku” (alip jasadku), Ki Ageng menyela juga , “ANG raganingsun” (ANG ragaku), Sunan kudus menyela lagi, “ lam awal lan lam akhir napsuingsun” (lam awal dan lam akhir nafsuku), Ki Ageng menyela “ UNG sukmaningsun” (UNG sukmaku).

Sunan kudus menimpali “ HU ruhingsun” (HU rohku), Ki Ageng menimpali “ MANG atmaningsun” (MANG Atmaku), Sunan Kudus “ Allah Asmaningsun” (Allah namaku), Ki Ageng “ HONG asmaningsung” ( HONG namaku). Sunan kudus, “ ALIP, LAM AWAL, LAM AKHIR, HU….ALLAH”, Ki Ageng Pengging , “ ANG, UNG, MANG…..HONG!”.

Sunan kudus diam. Lantas menantang secara halus, “ Yen tebu weruh legine, yen endhog weruh dadare” ( Apabila tebu nyata manisnya, apabila telur nyata isinya)*****(Ungkapan ini adalah khas ungkapan jawa, yang maksudnya meminta bukti nyata dari semua yang diucapkan “damar shasangka”.

Ki Ageng tersenyum dan berkata “ Sumangga ing karsa…..” (silahkan jika berkenan). Ki Ageng Pengging lantas bersendakep dan meminta sunan kudus untuk memperhatikan titik diantara kedua alis beliau. Lantas Ki Ageng memejamkan mata. Sunan kudus lekat memperhatikan titik diantara kedua alis Ki Ageng Pengging.

Suasana mendadak berubah, ruangan dimana sunan kudus berada terasa hampa, senyap seolah tanpa suara sama sekali. Beberapa detik kemudian suna kudus mendadak tersentak manakala dia melihat cahaya terang nan lembut memancar dari titik diantara kedua mata Ki Ageng Pengging. Cahaya nan lembut itu menerobos kesadaran Sunan Kudus. Dan disana, ditengah hempasan cahaya tersebut, sunan kudus melihat dirinya berada disana. Sejenakkemudian berubah menjadi wujud Ki Ageng Pengging, lantas berubah lagi menjadi wujudnya.

Sunan kudus menutup mata, namun penampakan itu menembus kelopak matanya yang terpejam. Sunan kudus lantas berkata “ Aku Percaya Nak Mas Pengging. Sudah cukup”.

Ki Ageng Pengging tersenyum, dan cahaya lembut yang memancar dari titik Ditengah kedua alis matanya tersebut, mendadak sirna tanpa bekas. Sunan kudus membuka kedua matanya dan menatap Ki Ageng Pengging tajam, sembari berkata “ kabarnya, Nakmas Pengging mampu mati sakjroning urip. Urip sakjroning pati?”

Ki Ageng Pengging menjawab “ Kanjeng sunan, saya tahu kanjeng sunan demak menganggap saya sebagai “klilip” (penghalang) beliau. Tidak usah baa-basi lagi. Saya siap mati sekarang. Saya bisa mengakhiri kehidupanku saat ini juga. Tetapi, kalau saya melakukannya sendiri, sama saja saya dengan bunuh diri. Bunuh diri dalam keyakinan Shiwa maupun Islam adalah hal yang tercela. Untuk itu jadilah perantara kematianku.

  1. Kematian Dalam Serat Centhini
    Serat centini adalah sebuah pustaka jawa dengan ketebalan mencapai 4.200 halaman, tulisan tangan dengan huruf jawa (12 jilid). Serat ini ditulis pada tahun 1814 M atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra kanjeng susuhunan Pakubuwana IV, yang kemudian bertahta sebagai pakubuwana V. (Baca Serat Centhini)

 

BAB VI

KEMATIAN YANG INDAH

 

Pada kasus tertentu, kemajuan di bidang medis ‘hanya mampu’ mempertahankan kehidupan’ seseorang pesakit, tetapi gagal mengembalikan keadaan kesehatannya seperti sediakala atau setidak-tidaknya mampu menjalani kehidupan secara wajar.

Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kecerobohan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak mengenal kematian, tetapi orang yang ceroboh tak ubahnya seperti orang yang sudah mati. Dunia dikatakan tak timbul karena kesadaran tak muncul, dikatakan hidup karena munculnya kesadaran, dikatakan mati karena padamnya kesadaran.

Mari kita belajar pada pengalaman yang pernah diperoleh dari sunan kalijaga. Ketika itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang dijuluki syekh malaya berniat hendak pergi ke Mekkah. Tetapi niatnya itu akhirnya dihadang oleh Nabi Khidir. Nabi Khidir berpesan hendaknya sunan kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke MEkkah, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan di pulau Jawa. Kalau tidak, maka penduduk Pulau Jawa akan kembali menjadi Kafir. Wejangan Nabi Khidir ini termuat dalam suluk linglung sunan kalijaga. Inilh kutipannya :

Bilahi ananireku, aranira Allah jati. Tanana kalih ketiga, sapa wruha yen wus dadi, ingsun weruh pesti nora, ngarani namanireki timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu
Artinya :Dengan adanya wujud dirimu, menunjukkan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa mengetahui asal muasa kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.
Sifat jamal punika, ingkan kinen angarani, pepakane ana ika, akon ngarani puniki, iya Allah angandika, mring Muhammad kang kekasih.
Artinya : Ada pun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah sifat yang selalu berusaha menyebutkan bahwa pada dasarnya adanya dirinya karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi kekasihNYA.
Yen tanana sira iku, ingsun tanana ngarani, mung sira ngarani ingwang, dene tunggal lan sireki iya ingsun iya sira, aranira aran mami.
Artinya : Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebut keberadaanKU; sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya Aku, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya DzatKU.
Tauhid hidayat sireku, tunggal lawan Sang Hyang Widhi, tunggal sira lawan Allah, uga donya uga akhir, ya rumangsana pangeran, ya Allah ana nireki.
Artinya : Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Yuhan. Menyatu dengan Allah, baik itu di dunia maupun di akhirat. Dan Kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu.
Ruh idhofi neng sireku, makrifat ya den arani, uripe ingaranan syahdat, urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya, rukuk pamore Hyang Widhi.
Artinya : Ruh idhofi yang ada dalam dirimu, Makrifat sebutannya, Hidupnya disebut syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Allah.
Sekarat tananamu nyamur, ja melu yen sira wedi, lan ja melu-melu Allah, iku aran sakaratil, ruh idhofi mati tannana, urip mati mati urip.
Artinya : Penderitaan yang selalu menyertai ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakharatul maut. Dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; hidup mati, mati hidup.
Liring mati sajroning ngahurip, iya urip sajroning pejah, urip bae selawase, kang mati nepsu iku, badan dhohir ingkang nglakoni, katampan badan kang nyata, pamore sawujud, pagene ngrasa matiya, syekh malaya ( S. Kalijaga) den padhang sira nampi, Wahyu prapta nugraha.
Artinya : Mati didalam kehidupan. Atau sama dengan hidup didalam kematian, yaitu hidup abadi karena yang mati itu adalah nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataan satu wujud. Raga sirna, sukma moksa. Jelasnya mengalami kematian! Syekh malaya (s. Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

 

Ibarat perjalanan ke suatu tujuan dengan mempergunakan kendaraaan yang berbeda-beda, kita semua sebgai penumpang pasti akan sampai tujuan tersebut, tinggal kita “awas” dalam perjalanan ataupun kita hanya “tidur”. Yang awas akan mengerti isi perjalanannya dan yang tidur tidak mengerti isi perjalanannya.

Agama boleh terus berkembang, tetapi hendaknya manusia tidak menyikapinya dengan raya yang fanatik yang berlebihan, atau memaksakan ajarannya kepada orang lain, bahkan menerapkan hukum agama tersebut sebagai hukum negara. Jika kaidah tersebut dibakukan sebagai sebuah kaidah keyakinan mutlak, maka dapat dipastikan umat agama yang lain tidak dapat berkembang atau mengabarkan agamnnya dan pemaksaan tersbut ujung-ujungnya adalah pertentangan hingga mengakibatkan peperangan.

Masyarakat jawa hidup penuh toleransi, menghargai pendapat dan keyakinan orang, dan mereka tidak bodoh dengan memaksa berdoa harus memakai bahasa tertentu. Sedangkan Allah / Gusti Pangeran itu adalah Maha tahu segala bahasa yang diucapkan oleh semua makhluk. DIA maha adil dan maha melihat walaupun rahasia yang tersembunyi sekalipun seperti terpendam di hati.

 

Data Buku :

Bendung Layungkuning  ;  ” SANGKAN PARANING DUMADI. Orang Jawa dan Rahasia Kematian. ”  ;  Yogyakarta  ;  Narasi  ; 2013 = cetakan pertama  ;  ISBN (10) : 979-168-309-3  ;  ISBN (13) : 978-979-168-309-8  ;  188 halaman  ;  bahasa Indonesia.