Tag Archives: Soal

SOAL FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

1. Jelaskan mengapa manusia melakukan penelitian untuk menghasilkan ilmu pengetahuan! Berikan contoh bahwa dalam penelitian lebih ditekankan pada contex of discovery daripada contex of justification! Jelaskan pula yang dimaksud dengan sikap ilmiah!

2. Jelaskan yang dimaksud bahwa dalam pengembangan ilmu pengetahuan didasarkan landasanmetafisis/ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Lengkapi dengan contoh-contoh dalam rancangan penelitianuntuk disertasi Sdr!

3. Jelaskan yang dimaksud dengan objektivitas dan originalitas ilmu pengetahuan! Buatlah analisis kritik terhadap faham Empirisme dan Rasionalisme serta Positivisme tentang pengetahuan!

4. Jelaskan peranan sarana berpikir ilmiah dan metode ilmiah! Bagaimana hubungan antara hipotesis, teori dan hukum ilmiah! Berikan contoh!

5. Jelaskan hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan dan agama, serta perubahan sosial. Berikan contoh!

6. Jelaskan peranan Etika bagi pengembangan dan penerapan dalam bidang yang menjadi minat Sdr!

7. Bagaimana tanggungjawab sosial ilmuwan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Republik Indonesia Berikan contoh dalam hubungannya dengan nasionalisme dan wawasan kebangsaan!
……..selamat mengerjakan…….

 

1. Jelaskan mengapa manusia melakukan penelitian untuk menghasilkan ilmu pengetahuan! Berikan contoh bahwa dalam penelitian lebih ditekankan pada contex of discovery daripada contex of justification! Jelaskan pula yang dimaksud dengan sikap ilmiah!
JAWAB :
Manusia memiliki logika untuk membedakan antara benar dan salah, memiliki etika yang dapat membedakan antara baik dan buruk, serta estetika yang membedakan antara indah dan jelek yang kesemua ini akan digunakan manusia dalam menjalani kehidupannya secara pribadi, antar sesama, dengan alam sekitar dan dengan Sang Pencipta melalui ajaran agama. Agama mengantarkan manusia kepada kebenaran dan filsafat membuka jalan bagi manusia yang mencari kebenaran. Sedangkan ilmu pengetahuan pada hakekatnya adalah kebenaran itu sendiri. Dengan demikian manusia selalu mengembangkan diri dengan menuntut ilmu, dengan tujuan mencari tahu rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi menjadi misteri. Salah satu cara untuk mengembangkan ilmu tersebut adalah dengan melakukan penelitian.

Berkembangnya ilmu yang demikian pesat tidak selalu mendatangkan keuntungan bagi umat manusia. Salah satu sisi negatif adalah menyangkut perkembangan ilmu, diantaranya dalam bidang bioteknologi, yaitu adanya kontroversi berkenaan dengan teknologi kloning. Kloning merupakan teknik penggandaan gen yang menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari segi hereditas maupun penampakannya. Kloning menjadi sorotan publik tahun 1997 ketika teknologi ini berhasil diterapkan untuk pertama kali pada hewan tingkat tinggi oleh tim peneliti dari Institut Roslin di Skotlandia pimpinan Ian Wilmut. Kontroversi kloning semakin hebat ketika teknologi ini diterapkan untuk manusia. Polemik di atas menunjukkan bahwa ilmu tidak terlepas dengan sistem nilai. Kaitan ilmu dan sistem nilai telah lama menjadi bahan pembahasan para pemikir antara lain Merton, Popper, Russel, Wilardjo, Slamet Iman Santoso, dan Suriasumantri. Pertanyaan umum yang sering muncul berkenaan dengan hal tersebut adalah : apakah ilmu itu bebas dari sistem nilai ? Ataukah sebaliknya, ilmu itu terikat pada sistem nilai ? Ternyata pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban yang sama dari para ilmuwan apa lagi dari masyarakat luas. Ada dua kelompok ilmuwan yang masing-masing punya pendirian terhadap masalah tersebut. Kelompok pertama, kelompok yang memiliki kecenderungan puritan-elitis, menghendaki ilmu harus bersifat netral terhadap sistem nilai. Mereka berusaha agar ilmu dikembangkan demi ilmu. Menurut mereka tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan ilmiah. Ilmu ini selanjutnya dipergunakan untuk apa, terserah pada yang menggunakannya, ilmuwan tidak ikut campur. Kelompok kedua, kelompok yang memiliki kecenderungan pragmatis, beranggapan bahwa ilmu dikembangkan demi mencari dan memperoleh penjelasan tentang berbagai persoalan dalam alam semesta ini. Mereka juga berpendapat bahwa netralitas ilmu hanya terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan objek penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan azas-azas moral.Adanya perbedaan pandangan tersebut dapat dipahami dari konteks perkembangan ilmu. Ada dua konteks berkenaan dengan hal tersebut, yaitu context of discovery dan context of justification. Kedua konteks ini merupakan jawaban sekaligus jalan keluar terhadap polemik di atas.
1. Context of Discovery
Yang dimaksud dengan context of discovery adalah konteks di mana ilmu dikembangkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu ditemukan dan berkembang dalam konteks ruang, waktu, dan situasi tertentu. Ilmu tidak muncul secara tiba-tiba, ada konteks tertentu yang melatar belakangi muncul dan berkembangnya ilmu. Tidak bisa disangkal bahwa ilmuwan dalam melakukan kegiatan ilmiahnya termotivasi oleh keinginan tertentu, baik yang bersifat personal maupun kolektif, baik untuk penelitian ilmiah murni maupun untuk memecahkan masalah yang ada dalam kehidupan. Berdasarkan tinjauan context of discovery dapat dipahami bahwa ilmu tidak bebas nilai. Bahwa ilmu muncul dan berkembang karena desakan dari nilai-nilai tertentu.
2. Context of justification
Context of justification adalah konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah. Ada paradigma yang menyatakan bahwa ilmu merupakan kesatuan dari proses, prosedur, dan produk. Sebagai suatu produk, ilmu merupakan pengetahuan sistematis yang diperoleh dari aktivitas yang didasarkan pada prosedur-prosedur tertentu. Dalam hal inilah kebenaran ilmiah merupakan satu-satunya nilai yang harus dijadikan acuan. Nilai-nilai lain, diluar nilai kebenaran ilmiah harus dikesampingkan.
Polemik yang terjadi berkenaan dengan teknologi kloning dapat disikapi secara kritis berdasarkan context of justification dan context of discovery. Dari sisi context of justification, kebenaran teknologi kloning tidak bisa dibantah, dalam arti temuan tersebut diperoleh melalui prosedur dan pengujian yang telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Dari sisi context of discovery, harus dipertanyakan apakah hasil dari teknologi kloning tersebut berguna? Jika ternyata tidak berguna bagi kehidupan manusia, bahkan ternyata merendahkan martabat manusia, teknologi tersebut harus ditolak dan usaha tersebut harus dihentikan. Ditolaknya hasil teknologi tersebut bukan karena tidak benar, tetapi karena tidak memiliki manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan kedua konteks tersebut, sebuah penelitian selalu berorientasi pertama pada context of discovery, apabila tidak memberikan bermanfaat bagi manusia maka pertimbangan context of justification harus menjadi prioritas.

Sikap Ilmiah adalah sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap ilmuwan dalam melakukan tugasnya untuk mempelajari, meneruskan, menolak atau menerima serta merubah atau menambah suatu ilmu.Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah, misalnya dalam diskusi, seminar, loka karya, dan penulisan karya ilmiah.
Prof harsojo menyebutkan enam macam sikap ilmiah, yaitu:
(1) Obyektivitas , dalam peninjauan yang penting adalah obyeknya
(2) Sikap serba relatif , ilmu tidak mempunyai maksud mencari kebenaran mutlak, ilmu berdasarkan kebenaran-kebenaran ilmiah atas beberapa postulat, secara apriori telah diterima sebagai suatu kebenaran. Malahan teori-teori dalam imlu sering untuk mematahkan teori yang lain
(3) Sikap skeptis adalah sikap untuk selalu ragu-ragu terhadap pernyataanpernyataan yang belum cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya.
(4) Kesabaran intelektual , sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah pada tekanan agar dinyatakan suatu pendirian ilmiah , karena memang belum selesainya dan cukup lengkapnya hasil dari penelitian , adalah sikap seorang ilmuwan
(5) Kesederhanaan adalah sikap cara berfikir, menyatakan, dan membuktikan
(6) Sikap tidak memihak pada etik.
Berikut Rincian sikap ilmiah harus dimiliki seorang peneliti, adalah sebagai berikut :
1. Sikap Ingin Tahu
Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. Contohnya : “Mengapa demikian? Bagaimana caranya? Apa saja unsur-unsurnya? Dan seterusnya”.
2. Jujur
Seorang peneliti harus dapat menerima apa pun hasil penelitiannya, dan tidak boleh mengubah data hasil penelitiannya.
3. Objektif
Seorang peneliti dalam mengemukakan hasil penelitiannya tidak boleh dipengaruhi oleh perasaan pribadinya, tetapi harus berdasarkan kenyataan (fakta) yang ada.
4. Memiliki Kepedulian
Seorang peneliti mau mengubah pandangannya ketika menemukan bukti yang baru.
5. Teliti
Seorang peneliti dalam melakukan penelitian harus teliti dan tidak boleh melakukan kesalahan, karena dapat mempengaruhi hasil penelitiannya.
6. Tekun
Seorang peneliti harus tekun dan tidak mudah putus asa jika menghadapi masalah dalam penelitiannya.
7. Berani dan Santun
Seorang peneliti harus berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan berargumentasi.
8. Sikap Kritis
Sikap kritis terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.
9. Sikap Terbuka
Sikap terbuka dapat dilihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.
10. Sikap Rela Menghargai Karya Orang Lain
Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
11. Sikap Berani Mempertahankan Kebenaran
Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada.
12. Sikap Menjangkau ke Depan
Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.

 

2. Jelaskan yang dimaksud bahwa dalam pengembangan ilmu pengetahuan didasarkan landasanmetafisis/ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Lengkapi dengan contoh-contoh dalam rancangan penelitian untuk disertasi Sdr!
JAWAB :
Pengembangan ilmu pengetahuan pada prinsipnya berdasarkan tiga landasan utama yaitu landasan ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologis. Secara singkatnya, makna ketiga landasan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Landasan ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu.
  • Landasan epistemologis adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut
  • Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia

CONTOH PROPOSAL DESERTASI SBB
Element Example
Title Penguatan Kompetensi Farmakoterapi untuk Peningkatan Ketrampilan KIE berbasis Pedagogi Reflektif

Landasan Ontologis
Research question

  1. Apa yang mejadi permasalahan dalam proses pembelajaran farmakoterapi di perguruan tinggi farmasi menurut persepsi mahasiswa profesi apoteker yang menjalani PKL, apoteker pengelola apotek
  2. Bagaimana model inovasi pembelajaran farmakoterapi yang dapat diterapkan di lingkup perguruan tinggi farmasi di Indonesia untuk menghasilkan lulusan apoteker yang kompeten di layanan informasi obat

Significance

  1. Kehadiran apoteker pada waktu jam buka apotek sebagai seorang drugexpert merupakan sebuah keharusan sebagai wujud pelayanan profesional bagi masyarakat. Namun demikian masih banyak dijumpai tidak adanya kehadiran apoteker di jam buka apotek.Masalah pokok yang menyebabkan ketidakhadiran apoteker antara lain (1) kerja rangkap di pemerintahan, (2) kemauan dan (3) kemampuan
  2. Penguasaan akan ilmu farmakoterapi merupakan sebuah syarat mutlak dalam menunjang citra apoteker sebagai drugexpert. Selain itu untuk menjadi seorang drugexpert dibutuhkan pula ketrampilan melakukan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)
  3. Penguatan kompetensi apoteker sebagai drugexpert dapat diatasi dengan dua kemungkinan yaitu (1) penguatan kemampuan farmakoterapi mahasiswa apoteker di perguruan tinggi dengan melakukan inovasi metode pembelajaran dan (2) adanya program Continuing Profesional Development dan Continuing Education yang dilaksanakan secara rutin oleh IAI

Landasan Epistemologis
Design Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap.
• Penelitian tahap I : Penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif analitik
• Penelitian tahap II : jenis penelitian evaluatif dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas, dengan pengambilan data secara crosssectional

Subjects
Entrycriteria
Recruitment Penelitian I
• Mahasiswa prodi profesi apoteker UAD, USD, UGM dan UII yang melakukan PKL Apotek di Yogyakarta
• Apoteker Pengelola Apotek yang menerima Praktek Kerja Mahasiswa prodi Profesi Apoter di Yogyakarta
Penelitian II
• Mahasiswa prodi profesi apoteker USD yang sedang menjalani perkuliahan Pelayanan Kefarmasian di Komunitas

Penelitian I
• Sampling prodi profesi apoteker UAD, USD, UGM dan UII yang melakukan PKL dan semua apoteker yang menerima praktek kerja mahasiswa profesi apoteker pada semester (X)
Penelitian II
• Semua mahasiswa prodi profesi apoteker USD (terbagi menjadi kelompok kontrol dan tretment) yang menjalani perkuliahan Pelayanan Kefarmasian di Komunitas pada semester (X+1)
Variable

Predictor

Outcome

Predictor
Outcome Penelitian Tahap I : Needassesment

Analisis dokumen RPKPS APTFI

1) Persepsi mahasiswa terhadap proses pembelajaran farmakoterapi yang telah ditempuh (berdasarkan kuesioner)
2) Persepsi apoteker pengelola apotek tentang kinerja mahasiswa praktek kerja terkait farmakoterapi (berdasarkan kuesioner)
3) Observasi praktek mahasiswa PKL di apotek

Penelitian Tahap II (Implementasi dan Produk)
Inovasi Model Pembelajaran Farmakoterapi berbasis Pedagogi Reflektif (IMPF-PR)
Rencana, Instrumen Evaluasi dan Modul IMPF-PR
2) Nilai akademik mahasiswa yang menjalani IMPF-PR dan metode konvensional
3) Penilaian portofolio refleksi mahasiswa yang menjalani IMPF-PR dan metode konvensional
4) Kepuasan mahasiswa profesi apoteker yang menjalani perkuliahan Pelayanan Kefarmasian di Komunitas dengan cara IMPF-PR dan metode konvensional
5) Kepuasan dosen pengampu perkuliahan Pelayanan Kefarmasian di Komunitas dengan cara IMPF-PR
6) Buku Panduan Pengembangan Pembelajaran Farmakoterapi berbasis pedagogi reflektif

Statisticalissue
Hypothesis
Sampel sizeandpower Penerapan IMPF-PR bagi mahasiswa profesi apoteker akan memberikan pondasi kokoh bagi penguatan kompetensi farmakoterapi dan ketrampilan KIE
• Sampling mahasiswa profesi apoteker di UAD, USD, UGM dan UII yang menjalankan praktek kerja apotek di semeter (X)
• Segenap mahasiswa profesi apoteker di USD yang menjalankan perkuliahan Pelayanan Kefarmasian di Komunitas di semeter (X+1)

Landasan Aksiologis
Outcome Buku Panduan Pengembangan Pembelajaran Farmakoterapi berbasis pedagogi reflektif

 

3. Jelaskan yang dimaksud dengan objektivitas dan originalitas ilmu pengetahuan! Buatlah analisis kritik terhadap faham Empirisme dan Rasionalisme serta Positivisme tentang pengetahuan!
JAWAB :
Objektivitas ilmu itu sendiri adalah ilmu merupakan berkah penyelamat bagi umat manusia. Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal baik-buruk dan si pemilik pengetahuan itulah yang memiliki sikap. Dengan kata lain netralitas ilmu terletak pada epistemologinya, jika hitam katakan hitam, jika putih katakan putih; tanpa berpihak kepada siapapun kecuali kebenaran.
Berfilsafat berarti melakukan suatu pemikiran bebas dan sebebas-bebasnya sebagai lawan dari otoriterisme, kepercayaan, agama, ideologi dan pemikiran yang tertutup. Ilmu pengetahuan membutuhkan kebebasan berpikir yang sangat luas baik dalam kelas maupun luar kelas, dalam rangka mencari hakekat pengetahuan dan kebenaran. Hasil dari pencarian hakekat pengetahuan dan kebenaran tersebut merupakan originalitas ilmu pengetahuan.
ANALISIS KRITIS
Empirisme
Pengetahuan empiris diperoleh atas bukti penginderaan, dengan penglihatan, pendengaran dan sentuhan indera-indera lainnya, sehingga kita memiliki konsep dunia di sekitar kita. Paradigma pengetahuan empiris adalah SAINS, dimana hipotesis sains diuji dengan observasi atau eksperimen. Aliran yang menjadikan empiri (pengalaman) sebagai pengetahuan disebut empirisme. Empirisme merupakan aliran dalam filsafat yang membicarakan pengetahuan. Empirisme beranggapan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman dan penginderaan. Pengalaman merupakan proses interaksi manusia dengan lingkungannnya, dengan melibatkan akal sebagai bagian integral. Dalam sains modern, para ahli memberikan perhatian pada kontrol observasi dan eksperimen, tidak semata-mata pada persepsi indera secara umum dari pengalaman-pengalaman. Kesimpulan yang diperoleh dari pengalaman akan selalu bersifat sementara dan dimulai dari bentuk hipotesis. Oleh karena itu teori atau hukum-hukum yang diperoleh melalui pengalaman setiap saat dapat berubah dan dapat diubah, sesuai dengan hasil temuan baru yang berdasarkan pengalaman pula.
Rasionalisme
Rasionalisme adalah aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Rasionalisme berpandangan bahwa akal merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan. Akal manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui kebenaran alam semesta, yang tidak mungkin dapat diketahui melalui observasi. Menurut rasionalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum sebab-akibat, karena peristiwa yang tidak terhingga dalam kejadian alam ini tidak mungkin dapat diobservasi.
Rasionalisme memberikan kritik terhadap empirisme bahwa :
• Metode empiris tidak memberikan kepastian, tetapi hanya sampai pada probabilitas yang tinggi
• Metode empiris, baik sains maupun dalam kehidupan sehari-hari, biasanya bersifat sepotong-sepotong (piecemeal)
Positivisme
Positivisme merupakan suatu model dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang dalam langkah kerjanya menempuh jalan melalui observasi, eskperimentasi dan komparasi sebagaimana diterapkan dalam ilmu kealaman dan model ini dikembangkan dalam pengembangan ilmu-ilmu sosial. Positivisme menggunakan presisi, verifiabilitas, konfirmasi dan eksperimentasi dengan derajad optimal, dengan maksud agar sejauh mungkin dapat melakukan prediksi dengan derajad ketepatan yang optimal.
Positivisme merupakan model pendekatan ilmiah kuantitatif dalam keilmuan, para penganutnya menyebut dirinya berparadigma ilmiah (scientificparadigm). Hal ini ditunjukkan dari beberapa hal yaitu :
• Teknik yang digunakan kuantitatif.
• Kriteria kualitasnya bersifat rigor yaitu harus memenuhi prinsip validitas eksternal-internal, reliabilitas dan objektivitas.
• Persoalan kualitasnya menunjukkan “dapatkah X menyebabkan Y ?”.
• Lebih pada pengetahuan proporsional yaitu dalam bentuk hipotesis
• Pendiriannya adalah reduksionis, yaitu menyempitkan penelitian pada fokus yang relatif kecil dengan formulasi hipotesis dan hipotesis ini diuji secara empirik.
• Maksudnya untuk menemukan pengetahuan melalui verifikasi hipotesis yang dispesifikkan secara apriori.
Kritik terhadap rasionalisme yaitu :
• Positivisme menghasilkan penelitian dengan responden manusia, namun kurang mengindahkan kemanusiaan. Dapat dikatakan pendekatan positivisme tidak memiliki implikasi etis.
• Positivisme kurang berhasil menggarap formulasi empiris dan konseptual dari berbagai bidang ilmu (terutama ilmu sosial dan humaniora).
• Positivisme bermuara paling sedikit pada lima asumsi yang sulit untuk dipertahankan yaitu :
1) Asumsi ontologis tentang terjadinya realitas tunggal yang dapat dipecah-pecah dan diselidiki secara terpisah.
2) Asusmsi epistemologis tentang kemungkinan terpisahnya pengamat dari yang diamati.
3) Asumsi tentang keterpisahan observasi secara temporal dan kontekstual, sehingga yang benar pada suatu waktu dan tempat, benar juga pada waktu dan tempat yang lain.
4) Asumsi hubungan kausal yang linier, yang satu merupakan sebab dan lain yang merupakan akibat.
5) Asumsi aksiologis tentang bebas nilai, yakni metodologi menjamin bahwa hasil-hasil penilaian secara essensial bebas dari pengaruh sistem nilai.

4. Jelaskan peranan sarana berpikir ilmiah dan metode ilmiah! Bagaimana hubungan antara hipotesis, teori dan hukum ilmiah! Berikan contoh!
JAWAB :
Ciri utama manusia yang membedakan dengan binatang yaitu manusia memiliki akal dan selalu berpikir dalam melakukan aktivitasnya. Berpikir sendiri dibedakan menjadi dua yaitu berpikir alamiah dan ilmiah. Berpikir alamiah digunakan berdasarkan kebiasaan sehari-hari; sedangkan berpikir ilmiah merupakan berfikir dengan langkah – langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menjugi hipotesis, menarik kesimpulan. Kesemua langkah – langkah berfikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat / sarana yang baik sehingga diharapkan hasil dari berfikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.
Ditinjau dari pola berfikirnya, maka maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir deduktif dan berfikir induktif, untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif .Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut. Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik.
Peran Metode Ilmiah Dalam Pengembangan Ilmu
Suatu ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang dengan sendirinya akan tetapi dapat berkembang jika adanya suatu metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan upaya untuk merumuskan permasalahan, mengajukan pertanyaan – pertanyaan dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan jalan menemukan fakta-fakta secara ilmiah tana adanya rekayasa di dalamnya dan memberikan penafsirannya yang benar, serta dengan adanya metode ilmiah yang dilakukan bertujuan untuk memperbarui ilmu pengetahuan yang sudah ada. Metode ilmiah sendiri dalam memperoleh kebenaran dalam ilmu pengetahuan dibangun diatas teori tertentu.
Pendapat Cholid Narbuko dan Abu Achmadi (2007) berpendapat bahwa ilmu pengetahuan sendiri memiliki tiga sifat utama yaitu :
1) Sikap ilmiah
2) Metode ilmiah
3) Tersusun secara sistematis dan runtut
Sikap ilmiah menuntut orang untuk berfikir dengan sikap tertentu. Dari sikap tersebut orang dituntut dengan cara tertentu untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. selanjutnya cara tertentu itu disebut metode ilmiah. Jadi dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah diharapkan dapat menyusun ilmu pengetahuan secara sistematik dan runtun.Secara garis besar keduanya mempunyai peran atau tugas yang identik, tugas – tugas tersebut antara lain :
 Menyandra ( diskripsi )
Menggambarkan secara jelas daan cermat, hal – hal yang dipersoalkan.
 Menerangkan ( ekspansi )
Menerangkan secara detil kondisi – kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa.
 Menyusun teori
Mencari dan merumuskan hukum – hukum, tata hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain.
 Ramalan ( prediksi )
Membuat prediksi ( ramalan ), estimasi ( taksiran ) dan proyeksi mengenai peristiwa yang bakal muncul bila keadaan itu didiamkan.
 Pengendalian ( kontrol )
Melakukan tindakan – tindakan guna mengatasi keadaan atau gejala yang bakal muncul.
Hasil dari suatu metode ilmiah dalam pengembangan ilmu sendiri mempunyai manfaat diantaranya :
 Dapat dijadikan peta yang menggambarkan tentang keadaan suatu obyek yang sekaligus melukiskan tentang kemampuan sumber daya, kemungkinan–kemungkinan yang ditemukan di dalam melaksanakan sesuatu.
 Dapat dijadikan sebagai sarana diagnosisdalam mencari sebab musabah kegagalan, sehingga dapat dengan mudah dicari upaya untuk menanggulanginya.
 Dapat dijadikan sarana untuk menyusun kebijaksanaan atau policy dalam menyusun strategi pengembangan selanjutnya.
Hubungan antara hipotesis, teori dan hukum ilmiah! Dan contohnya.
Hipotesis
Adalah perkiraan kaum terpelajar mengenai observasi. Hipotesis adalah ide atau preposisi yang bisa dites dengan observasi atau eksperimen. Itu adalah penjelasan rasional dari sebuah kejadian atau fenomena berdasar dari pengamatan, namun belum dibuktikan. Biasanya hipotesis bisa di dukung atau disangkal melalui eksperimen dan observasi, Hipotesis bisa dibuktikan salah, tapi tidak bisa dibuktikan benar. Agar bisa menjadi ilmiah hipotesis haruslah Falsifiable, artinya harus bisa dibuktikan salah.
Teori
Teori ilmiah merangkum hipotesis atau hipotesis-hipotesis yang telah didukung dengan tes yang berulang. Teori valid selama tidak ada bukti yang melawannya. Karena itu teori bisa dibuktikan salah. Teori juga bisa dikatakan hipotesis yang diterima. Jerry Wilson dalam Wilstar.com menyatakan bahwa perbedaan terbesar antara hukum dan teori adalah bahwa teori lebih komplek dan dinamis. Hukum menggambarkan sebuah aksi, sementara teori menjelaskan menjelaskan seluruh grup atau fenomena terkait
Hukum ilmiah
Hukum ilmiah adalah suatu pernyataan fakta yang bertujuan untuk menggambarkan kejadian atau kejadian-kejadian dengan term yang jelas. Biasanya diterima secara benar dan universal. Kadang merupakan sebuah persamaan matematis. Hukum adalah generalisasi dari observasi-observasi. Hukum Ilmiah menggambarkan tapi tidak menjelaskannya. Untuk membedakan antara hukum dan teori adalah bahwa hukum tidak menjelaskan mengapa. Contohnya adalah hukum gravitasi Newton. Dia bisa memprediksi sifat benda jatuh tapi tidak menjelaskan kenapa.

 

5. Jelaskan hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan dan agama, serta perubahan sosial. Berikan contoh!
JAWAB :
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, akan tercipta pula teknologi-teknologi yang dipakai dan menyebabkan perubahan sosial dari budaya masyarakat. Hal ini terjadi karena teknologi tercipta sebagai penerapan sistematis dari pengetahuan-pengetahuan ilmiah untuk memudahkan kehidupan manusia. Agama dalam hal ini membatasi dampak negatif dari perkembangan tersebut.
Masyarakat yang maju senantiasa dinilai dari banyaknya teknologi yang dihasilkan karena pada dasarnya teknologi senantiasa mencerminkan kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Teknologi bisa membawa 2 dampak yaitu positif maupun negatif. Sebagai contoh yaitu lahirnya teknologi komunikasi seperti handphone dan internet, yang memudahkan antar manusia untuk berkomunikasi jarak jauh dengan lebih cepat, ini merupakan dampak positif.
Namun tidak dipungkiri bahwa masyarakat yang tidak siap dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, justru akan merasakan dampak negatif dari teknologi itu sendiri. Sebagai contoh yaitu teknologi internet, selain manfaat positif yang ada, dampak negatif yang muncul yaitu kemudahan akses terhadap pornografi, lengkapnya informasi yang ada di internet kadang membuat masyarakat tidak lagi mampu menyaring info yang didapat sehingga menyebabkan degradasi nilai pada masyarakat, budaya membaca buku juga sudah mulai tergantikan sehingga menyebabkan terjadinya perubahan sosial secara menyeluruh pada setiap lapisan masyarakat. Adanya ketergantungan pada teknologi akan menjadikan manusia terlena dari eksistensi dirinya sehingga menjadi tidak sadar bahwa mereka dipenjarakan oleh teknologi. Untuk yang dapat memetik manfaat positif akan semakin dimudahkan dalam kehidupannya; namun yang tidak siap akan kehadiran teknologi, bisa menuai dampak negatif dari teknologi. Dan pada kenyataannya hanya agama yang mampu mengarahkan kesemua hal ini ke arah kebaikan.
6. Jelaskan peranan Etika bagi pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmukesehatan atau ilmu kedokteran!
JAWAB :
Etika adalah cabang ilmu filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas. Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Secara lebih detail, etika merupakan ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Lebih lanjut, moral mengandung 4 pengertian yaitu (1) baik-buruk, benar-salah, tepat-tidak tepat dalam kehidupan manusia; (2) tindakan benar, adil dan wajar; (3) kapasitas untuk diarahkan pada kesadaran benar-salah dan kepastian untuk mengarahkan kepada orang lain sesuai dengan kaidah tingkah laku yang dinilai benar-salah dan (4) sikap seseorang dalam hubungannya dengan orang lain. Dengan demikian, etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab.
Perkembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu kedokteran semakin berkembang pesat. Sebagai contoh, penggunakan teknologi bayi tabung. Teknologi ini, secara positif, bertujuan sebagai solusi bagi kehadiran anak dari suami istri yang terikat dalam perkawinan yang syah. Di mana sperma suami dan sel telur istri dipertemukan dalam teknologi bayi tabung, untuk menghasilkan janin, yang kemudian dimasukkan kembali dalam rahim istri untuk dapat berkembang normal sebagai janin. Karena teknologi ini juga memiliki keberhasilan yang cukup, timbul ide bagaimana kalau sel sperma dan sel telur berasal dari laki-laki dan perempuan yang tidak terikat dalam suatu perkawinan yang sah ? Tugas Etika untuk menganalisis hal ini.
Hal lain, dalam eksperimen di laboratorium juga timbul ide, bagaimana kalau pertemuan sel sperma dan sel telur dilakukan antar spesies, misalnya antara tikus dan marmot. Spesies apa yang akan terjadi ? Di sini Etika berperan untuk menilai baik-buruk, benar-salah dan tanggung jawab moral dari penerapan teknologi ini. Bagaimana bila benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan manusia ? apakah relevan apabila teknologi ini dengan nilai-nilai masyarakat modern ?
Kesimpulannya, etika berperan aktif dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan bidang kesehatan/kedokteran khususnya dalam analisis dan penerapan konsep benar-salah, baik-buruk dan tanggung jawab.
7. Bagaimana tanggungjawab sosial ilmuwan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Republik Indonesia Berikan contoh dalam hubungannya dengan nasionalisme dan wawasan kebangsaan!
JAWAB :
Saat ini bangsa Indonesia harus menyadari bahwa keadaan masyarakat sekarang ini, masih jauh dari tahap masyarakat yang berorientasi kepada ilmu pengetahuan. Bahkan dalam masyarakat yang terdidik sekalipun, ilmu pengetahuan masih merupakan koleksi teori-teori yang bersifat akademik, yang sama sekali tidak fungsional terhadap kehidupan sehari hari. Dalam kondisi demikian, seorang ilmuwan diharapkan terpanggil untuk terus melakukan inovasi untuk menerapkan pengetahuannya menjadi produk teknologi yang bermanfaat.
Akhir-akhir ini berbagai produk aplikatif telah mulai banyak dipamerkan pada publik Indonesia, yang semuanya merupakan karya anak bangsa. Contohnya : (1) mobil Esemka, yang saat ini telah lolos uji emisi, yang memunculkan banyak informasi bahwa banyak mobil yang bisa dirakit oleh anak anak SMK (2) pembuatan gerbong kereta api oleh PT INKA Madiun, (3) diproduksinya panser oleh PT PINDAD sebagai hasil karya salah satu personel TNI AD, (4) prototipe mobil bertenaga hibrid (solar cell dan biodiesel) dari UGM, (5) launchinggoldmessenger, media jejaring sosial oleh mahasiswa UNS, (6) penggunaan anyaman pohon pisang untuk pembuatan studio kedap suara, (7) produk-produk penelitian PKM DIKTI yang jumlahnya ratusan per tahun menunggu untuk diangkat dalam skala produksi. Semuanya merupakan produk asli, buatan ilmuwan muda Indonesia, yang prospektif. Apabila Pemerintah bersedia untuk memfasilitasi hal ini, bukan tidak mungkin produk-produk ini bisa mendunia ! Apabila produk ini mampu bersaing dan digunakan di luar Indonesia, maka kebanggaan sebagai bangsa Indonesia akan meningkat. Hal ini akan meningkatkan nasionalisme dan wawasan kebangsaan kita semua.
Dengan demikian, semua ilmuwan Indonesia hendaknya bahu membahu untuk melakukan inovasi terus menerus dan berkesinambungan untuk menghasilkan produk teknologi terapan, yang mampu bersaing dan digunakan, baik di dalam maupun luar negeri.